Pejuang Keadilan

Sahutlah deklamasi salam perdamaian
Dari para pemimpi keadilan
Dari jiwa yang tak mudah terpatahkan
Inilah suara yang telah lama lantang
Berteriak menolak populernya penindasan

Cita-cita terkapar tak berdaya
Kala kreativitas ditemani bayang-bayang kecaman
Kami rindukan bermartabat sesungguhnya
Pelita untuk sekali lagi menerawang
lihatlah peradaban kini diambang kepunahan
Terlunta-lunta karena pembatasan

Keresahan akan tetap memanen duka
Jika terus diam dan menikmati kekejaman
Yang mestinya jadi teladan
Malah memaksa kami melawan
Yang mestinya menunjukkan jalan
Malah mengirim ke penjara jahannam

Kasihan sekali negeri ini
Kolonialis berdasi merasa perkasa
Diatas lembaran-lembaran gelar
Berdalih pada hebatnya kekuasaan
Dan aturan malah disalahgunakan

Tak ada lagi namanya kedaulatan
Meski bumi terus menggertak
Kebenaran akan tetap berteriak
Meski harus bertabrakan
Dengan benteng-benteng peradaban
Tapi memang benar, hanya akan ada satu kata
LAWAN, LAWAN, dan LAWAN!!

Nisa Chan_

Menulis itu tak Mudah

Rangas, 29 Januari 2017 Mencoba memulai menekuni hobi yang satu ini yang setiap paginya kutekadkan untuk menyelesaikan satu tulisan dengan gaya amatirku. Layar 14 inci tepat dihadapan siap dijamah dengan diiringi lagu klasik kesukaanku.

Jam menunjukkan pukul 09.53 dan masih tak kutemukan ide untuk memulai merangkai kata :D, hanya memelototi tampilan lembar word yang masih tak bercoret, bahkan lagu yang kuputar untuk menemaniku telah sampai di bait akhir. Hmm, Macet ide boss. 😀 

Kata yang mulai kumainkan kuhapus lagi dan beberapa kali seperti itu, tulis-hapus tulis-hapus dan tak selesai-selasai. Lalu kusepakati untuk beralih menulis keluhan seperti ini.  hahah

“Fokus??” yah, itulah masalah kedua setelah susahnya menemukan ide, dan rasa-rasanya ingin kusudahi hari ini dengan tulisan yang tak ber-ending. Meski sastra adalah minatku, tapi istilah “Menulis itu tak mudah” masih berlaku di diriku. Kendalanya karena menemukan diksi yang tepat untuk menghubungkan tiap prosa bukanlah hal yang mudah. Sebab, jika tak tepat akan menjalar kemana-mana. 😀

Bagi mereka yang memiliki genre hobi sepertiku, punya keterampilan seni menyusun kata adalah hal yang sangat dibutuhkan. Maka, banyak membaca adalah solusinya karena dengan membaca anda dapat menjumpai dan memperkaya kosa kata anda. Sebab Menulis bukanlah hal yang instan tapi butuh proses. “harus menjadi pembaca yang baik agar bisa menjadi penulis yang baik.” (H.P. Lovecraft). Masih ingatkan dengan petuah yang satu ini? so keep writing and Write every day.
Tertanda_Nisa Chan 🙂

Media saat ini-Tayangan pencarian bakat 

“Literasi Media”

​Talent show merupakan program pencarian bakat yang banyak ditayangkan di televisi. Program ini menjadi ajang pengaktualisasian diri bagi meraka yang memiliki kemampuan atau bakat dibidang tertentu. Misalnya di bidang tarik suara, pertunjukan bakat sulap, bakat musik dan lain-lain.

Dengan adanya acara talent show yang diadakan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia dapat menjadi ruang bagi masyarakat umum untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat yang dimiliki. Namun tanpa disadari tayangan-tayangan seperti inipun berimplikasi terhadap kehidupan sosial peserta bahkan masyarakat. 

Ada beberapa alasan kenapa orang rela antri berjam-jam untuk mendapat kesempatan mengikuti audisi.

  1. Ingin menyaluran bakat yang akan mengarahkan pada proses sosial persaingan, dimana individu berjuang dan bersaing untuk mencari keuntungan pada bidang kehidupan yang menjadi pusat perhatian umum.
  2. Mencari popularitas, yang sebenarnya akan berimplikasi pada pembentukan identitas baru dan perubahan kelas sosial bagi peserta.

Dari segi fungsi, media telah menjalankan fungsinya melalui tayangan talent show ini. Pada dasarnya talent show memberikan hiburan pada masyarakat. Namun, perlu disadari media sebagai Industri hiburan telah menyediakan pasar ekonomi. Seni dihargai bukan hanya karena kemampuannya mengomunikasikan nilai estetika tetapi karena ada unsur pemasarannya dengan menerapkan model bisnis tingkat lanjut, misalnya penempatan promosi produk di beberapa frame. Selain itu, masyarakat dijadikan sebagai sederet rating untuk mencari keuntungan.

Beberapa tahun belakangan ini, produksi program talent show sangat populer di Indonesia. Hampir seluruh siaran televisi menyiarakan acara pencarian bakat ini meskipun dengan konsep yang berbeda. Media sepertinya hanya diarahkan pada kepentingan profit dimana tayangan talent show dengan konsep yang berbeda-beda diproduksi beberapa stasiun tv. Media lebih melihat program yang banyak diminati oleh masyarakat sehingga masing-masing media berbondong-bondong memproduksi program serupa untuk berusaha mendapatkan rating tinggi yang bisa mendatangkan banyak pengiklan sehingga memperoleh keuntungan yang besar. Kondisi ini membuktikan pernyataan McQuail bahwa sebagian besar media didirikan dengan motif ekonomi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan media itu sendiri dan bukan kepentingan publik.
Penggunaan polling sms untuk memberi dukungan terhadap kontestan membawa keuntungan tersendiri bagi penyelenggara acara dan penyelenggara sms. Watak-watak kapitalis pemilik modal sangat tampak melalui tayangan talent show ini. Profit atau keuntungan yang besar didapat melalui format dukungan polling sms.

Tayangan ini seakan menyihir khalayak, beberapa orang rela berinvestasi dengan mengisi pulsa handphonenya untuk memberi dukungan pada jagoannya, beberapa orang merelakan waktu tidurnya untuk sekedar menonton siapa yang tereliminasi, bahkan ada yang secara sukarela datang ke studio untuk menyaksikan secara langsung sang idolanya. Hal ini mengantarkan kita pada gagasan “Hegemoni” yang diungkapkan oleh Antonio Gramsci. Gramsci manyatakan bahwa hegemoni ialah keadaan dimana individu menjadi tidak menyadari adanya dominasi dalam kehidupan mereka, sistem sosial yang mereka dukung justru telah mengeksploitasi diri mereka sendiri. Ini menunjukkan adanya kelompok dominan dalam masyarakat yang berhasil mengarahkan manusia kepada perasaan puas terhadap suatu keadaan. Dalam budaya hegemonik akan terdapat kelompok-kelompok yang menerima keuntungan  sedangkan kelompok lainnya akan dirugikan.

Tayangan inipun mengarahkan pada masyarakat konsumtif dan masyarakat cyber karena beberapa stasiun  televisi yang menayangkan ajang pencarian bakat dengan format dukungan bukan dengan poling sms namun menggunakan vote melalui aplikasi media sosial seperti youtube, instagram dan twitter untuk memberikan dukungan kepada peserta. Misalnya saja pada acara talent show yang menggunakan aplikasi khusus yang disediakan di play store untuk dapat memberikan dukungan.

Disisi lain, media melalui tayangan talent show relatif berkonstribusi dalam hal perubahan gaya hidup (life style), dari model rambut, kostum dan lain-lain. Dengan tampilan-tampilan peserta, host dan komentator dengan gaya glamornya, serta adanya komentar-komentar yang diberikan beberapa juri mengenai penampilan, tata rias, fashion dan sebagainya kepada peserta yang cenderung akan dijadikan percontohan beberapa orang dalam berpenampilan.

Talent show secara tidak sadar memproduksi nilai yang tak beretika, dimana olok-olok atau kata yang tak sepatutnya diucapkan menjadi hal lazim dipertontonkan dengan maksud menghibur penonton. Misalnya saja, dibeberapa talent show genre “stand up comedy” yang secara sengaja mencemooh orang lain atau kelompok sosial tertentu sebagai bahan materinya dalam berkompetisi. Meskipun dibeberapa frame diadakan sensor, namun pada dasarnya tampilan-tampilan seperti ini tidak layak untuk dipertontonkan kepada publik. Oleh karenanya itu, perlu bagi masyarakat untuk lebih peka dan kritis dalam mengakses dan memilih program yang bermanfaat dan benar-benar sesuai kebutuhan yang ada.

Apa Kabar pendidikan Di Negeriku?

​Mari menilik ironi pendidikan dari kacamata orang biasa seperti saya ini ^_^

Pendidikan di bumi Indonesia ini bisa dikatakan masih jauh dari kata berhasil. Mengapa bisa terjadi kian banyak murid sekolah yang bosan dengan proses belajar formal disekolah. Jika ketidaksukaan itu berlangsung kronis, bisa berujung pada ketidak gemaran belajar. Padahal, kegemaran dan kemampuan belajar secara mandiri itu penting karena keduanya akan lebih memungkinkan manusia memecahkan masalah ditengah kehidupan riil, dan memungkinkan manusia memberi arti bagi kehidupannya. 

Manusia bersekolah untuk hidup, bukan untuk sekedar lulus sekolah. Proses belajar mengajar di sekolah berlangsung seperti terpisah dari kehidupan. Hal ini menjadikan proses belajar di sekolah sangat tidak menyenangkan, sulit dipahami, dan sangat tidak menarik. Para murid hanya berkutat dalam dunia “mengetahui” tanpa “mengerti”. Kalau pun mereka duduk diam di kelas atau mengikuti pelajaran di sekolah dengan tertib, mereka melakukan itu semua hanya demi nilai ulangan yang memenuhi syarat kelulusan dan demi naik kelas. 

Beban pelajaran terlalu besar,  tugas yang begitu banyak menyita waktu sehingga menekan kreativitas murid untuk mengembangkan hobinya. Relasi pendidikan dan peserta didik cenderung kian dingin, kurang diresapi, padahal kesalingmengertian yang penting untuk menumbuh kembangkan suasana belajar mengajar yang menyenangkan. Peserta didik dan pendidik bertemu seolah hanya untuk menyelesaikan kontrak pekerjaan atau tugas masing-masing. Sesungguhnya motivasi belajar mengajar akan lebih bisa tumbuh kembang dengan baik jika ada suasana relasi yang menyenangkan, penuh saling terhormat, saling menghargai, dan saling mengerti antara pendidik dan peserta didik.

Jayalah Pendidikan Indonesia